Wisma Xaverian Skolastikat B bagian ujung paling barat lantai dua dekat kamar mandi, di sanalah letak kamarku berada. Sebuah pintu yang berwarna coklat pernis tanpa hiasan apapun kecuali sebuah nama yang terpampang di bagian atas tengah, Fr. Gregorius Purba Nagara. Pintu itu seperti sebuah jembatan antara kisahku dalam permenungan waktu studi dan istirahat. Pintu itu juga menjadi bagian dari hidupku yang amat berharga. Semua hartaku berada di balik pintu itu. Satu hal yang perlu diingat yaitu tidak ada privasi yang harus kujaga dengan ketat, pintu kamarku tidak pernah terkunci sebab privasi terpenting hanyalah ada di dalam hatiku, sedangkan di balik pintu itu adalah harta duniawiku.
Tanpa berpikir panjang untuk merenung aku langsung membuka pintu itu dan merasakan kelegaan yang luar biasa seusai kegiatan kuliah yang amat melelahkan. Aroma lavender dari pengharum ruangan Stella all in one menjadi ciri khas dari ruanganku. Udara yang sejuk dan ruangan yang cukup terang menjadikan ruanganku seperti sebuah tempat yang cocok untuk bersantai dan belajar. Aku masuk dan melihat betapa kerennya kamarku.
Ruangan yang cukup rapi dengan sebuah meja belajar yang langsung berdampingan dengan pintu, sebuah lemari besi yang berisikan pakaian berdiri tegak di tengah-tengah ruangan, sebuah rak buku yang tergantung di tembok kamar tepat di hadapan pintu masuk menjadi penghias ruanganku, selebihnya hanya tembok indah dengan warna putih yang membuatku semangat untuk belajar. Lantai keramik yang berwarna coklat itu pun menjadi salah satu bagian yang membuatku nyaman untuk berpijak. Kemudian ketika aku masuk lebih dalam, aku mulai melihat sebuah tempat tidur dengan bantal yang tersarungi dengan baik dan selimut yang terlipat rapi, tetapi ada membuatku tidak nyaman, sebuah handuk yang belum kujemur. Handuk itu sangat mengganggu pikiranku yang ingin santai.
Dari tempat tidur itu aku duduk dan melihat sekeliling kamarku. Cukup baik kondisinya untuk sejenak beristirahat dan bersiap untuk makan siang. Di hadapanku berdiri sebuah lemari besi berwarna coklat berisikan pakaian yang amat tinggi, kira-kira dua meter dengan dua daun pintu yang rapi tertutup. Di atas lemari itu terdapat sebuah ember hitam ukuran 12 liter yang selalu kuisi dengan pakaian-pakaian kotorku. Di sebelah kiri ember itu terdapat sebuah map yang berisikan lagu-lagu untuk koor misa arwah di paroki. Kini pandanganku tertarik pada sebuah poster salah satu pemain Liverpool, Coutinho. Di sampingnya langsung terpampang poster Italia tahun 2010an.
Di samping lemari yang tinggi itu langsung kulihat meja belajarku yang senantiasa setia menemaniku untuk belajar. Sebuah meja yang kira-kira panjangnya 130 cm dan lebar 60cm berwarna coklat dengan dua buah laci yang berbeda ukuran. Ukuran yang kecil berada di sebelah kanan atas sementara yang besar berada di bagian kanan bawah. Jika dilihat dari dekat meja itu hanyalah meja kantoran yang biasa, hanya saja yang membuat istimewa adalah adanya lampu belajar yang kudesain sendiri dengan berbagai tempelan isolasi pada bagian sana-sini untuk mengamankan diri dari sengatan listrik karena kabel yang terbuka. Kursi yang biasanya kugunakan untuk belajarpun tidak jauh letaknya dari sana sebab kursi itu adalah rekan kerja sehidup-semati bagi meja itu. Tidak ada yang istimewa dari kursi yang telah berjasa itu kecuali kursi lipat yang biasa ditemukan dalam acara-acara seminar atau rapat kerja umum.
Rak buku yang tertempel di tembok pun rasanya menjadi seperti sebuah gudang mini yang kurang teratur dengan rapi. Helm, buku, sarung tangan, kertas-kertas bekas, jam weker dan speaker untuk musik pun berada di sana. Lemari itu terlihat sangat tidak menarik perhatian, namun menjadi sebuah tanggungan yang harus kurapikan dengan segera sebelum semuanya itu menjadi kotor karena debu. Ingin rasanya membersihkannya segera, tetapi jam makan sudah dekat dan sudah saatnya saya pergi ke ruang makan untuk berkumpul bersama dengan kawan-kawan untuk memenuhi perut kami yang kosong.
Kini aku beranjak pergi, akan tetapi dalam pikiranku tersirat sebuah pernyataan tentang kamarku yang berhubungan dengan pribadiku. Aku melihat sebagian besar dari kamarku kondisinya amat rapi, bagus, bersih dan rapi, namun di bagian lemari yang menempel di dinding sangat terlihat tidak rapi. Hal itu yang mungkin menjadikan kamarku seharusnya mendapat nilai sembilan malah turun menjadi tujuh. Mungkin hal itu juga berhubungan dengan hidupku, ada di suatu bagian dalam hidupku yang baik, disiplin dan teratur, akan tetapi tidak perlu dibantah bahwa di dalam diriku terdapat hal yang kurang baik, no body perfect!
Kamarku mungkin jadi cerminan dari kondisi hati dan pribadiku pada saat itu. Okelah, nanti kamu akan kubersihkan dan aku juga akan membersihkan diriku. Sampai jumpa.
Komentar
Posting Komentar