Air yang Menghidupkan


AIR YANG TERCEMAR
                                               
Manusia melihat bahwa air bersih dan sehat di muka bumi ini tak terbatas, manusia menggunakan air dengan sebebas-bebasnya, bahkan menghambur-hamburkannya dan dikuasai oleh hedonis semata. Karena ulah manusia itulah yang membuat air bersih di dunia ini berkurang sedikit demi sedikit dan menjadi sebuah bencana yang tidak diinginkan oleh siapapun bahkan bumi ini se ndiri.
Menurut keyakinan para ahli, 70% dari luas bumi terdiri dari air. Salah seorang ahli tersebut ialah Thales dari Miletos yang mencari asas/prinsip alam semesta, menyatakan bahwa prinsip itu adalah air. Semuanya berasal dari air dan kembali menjadi air. Hendaknya manusia tahu mengenai air sebagai zat utama pada setiap makhluk hidup di bumi (Susilo, 2003:51).
            Sering dalam memahami keperluan manusia sehari-hari, terdapat kesulitan untuk mengatakan mana yang lebih penting, karena banyaknya perbedaan pendapat tentang untuk apa manusia itu hidup sesungguhnya. Kalau manusia berpandangan bahwa hidup untuk mencari kenikmatan, maka mereka akan merasa tidak puas demi kenikmatan itu, sejauh mereka hanya memburu kenikmatan itu. Untuk kelompok manusia semacam ini, pada hakekatnya rasa ketidakpuasan akan selalu merorongnya dan tidak jarang merugikan mereka sendiri. Untuk kelompok manusia yang mempunyai pandangan bahwa tujuan hidupnya di dunia ini tidak hanya mencari kenikmatan dengan kepuasan materi, maka bila mempunyai materi berlebih, barulah mereka menggunakannya. (Susilo, 2003:56).
Keadaan serupa terjadi di Indonesia, maraknya pencemaran air dan pengeksplotasian sumber daya air secara besar-besaran oleh pebisnis air mineral yang hanya semata-mata mengejar profit.     Indonesia sebagai negara dengan iklim tropis, seharusnya tidak mengalami bencana kekeringan yang melanda secara terus-menerus dan bergiliran. Berputar 180o dari kekeringan, Indonesia juga tidak luput dari serangan banjir, terlebih daerah Ibukota Indonesia, yaitu Jakarta.
            Menurut World Resources Institute, United Nations Environment Programme, United Nations Development Programme, and the World Bank menyatakan bahwa kualitas air Jakarta di bawah tekanan gabungan dari polusi domestik dan industri. Hal ini terjadi sejak tahun 1989 yang terus meningkat sampai saat ini. Air limbah domestik menyumbang 80% pencemaran air permukaan, hal ini menjadi sebuah masalah yang terus berkembang. Di beberapa daerah, air tanah tercemar dengan nitrat dan mikroorganisme dari limbah domestik dan bahan beracun dari tempat pembuangan sampah industri.
            Selain itu, menurut survei yang dilakukan Dampak Ekonomi Sanitasi Asia Tenggara oleh World Bank Water Program dan Sanitasi yang diterbitkan pada bulan November 2007, menyatakan bahwa sekitar 94 juta orang di Indonesia (43% total penduduk Indonesia tahun 2007) tidak memiliki toilet sendiri, sehingga mereka langsung membuang kotoran manusia mereka langsung ke sungai.
            Hendaknya kita sebagai umat manusia yang hidup di dunia ini sadar dan tahu bahwa air saat ini mengalami berbagai kerusakan yang disebabkan oleh ulah kita sendiri. Tak dapat dipungkiri bahwa dalam kehidupan kita sehari-hari secara langsung maupun tidak langsung kita telah membuat air yang memberikan kehidupan kepada kita mengalami penderitaan demi memenuhi kebutuhan kita.
            Kita tak seharusnya diam menghadapi keadaan seperti ini, hal ini mulai ditanggapi oleh salah satu kabupaten di kota Malang yang memulai usaha untuk mengatasi bencana banjir yang akan membuat danau kota. Padahal, bila danau di kota Malang sebelumnya tidak dialihfungsikan sebagai perumahan elit, mungkin bencana banjir dan kekeringan tidak terjadi dan anggaran untuk membangun danau kota yang akan datang dapat digunakan demi kepentigan lainnya. Selain berencana membuat danau kota, Pemerintah Kota Malang akan merealisasikan hutan kota sebagai serapan air. Hutan ini adalah hutan Malabar yang sebelumnya dialihfungsikan sebagai perumahan elit (Kompas : Jumat, 24 Desember 2010).

SEMINARI SEBAGAI KONSUMEN
            Hidup sebagai manusia di seminari, seminaris tidak lepas dari kebutuhan akan air. Air adalah kebutuhan vital dan pokok bagi seminaris. Kapanpun, air selalu digunakan untuk memenuhi kebutuhan tiap-tiap individu maupun dalam kepentingan komunitas.
            Penggunaan air secara terus-menerus yang dilakukan oleh seminaris, secara langsung maupun tidak langsung akan menurunkan kualitas air yang bersih menjadi sebuah air yang tercemar. Hal ini sangat nampak ketika seminaris menggunakan air untuk mencuci baju. Penggunaan air yang dilakukan seminaris dalam mencuci baju tidaklah sedikit. Bayangkan: bila 102 seminaris masing-masing mencuci baju 5 potong, air yang digunakan tiap-tiap seminaris untuk mencuci dalam jumlah tersebut ialah 4 ember sedang (+12 liter), kemudian dicampur dengan deterjen yang mengandung berbagai bahan kimia yang kurang begitu menyehatkan tubuh, tentunya akan menjadi sebuah polutan air yang luar biasa dengan jumlah 1224 liter per satu kali mencuci dengan jumlah 5 potong pakaian.
            Selain itu,
           
SEMINARIS GARUM, MENGHIDUPI VISI BERSAMA AIR
Seminaris calon imam-kader gereja yang berkesadaran global
 dan peka terhadap situasi lokal. (….).
Dalam perwujudan visi Seminari Garum, seminaris sebagai subyek pendidikan sebagai calon imam sangat diharapkan untuk menjadi seseorang yang berugahari terlebih seturut teladan St. Vincentius a Paluo yang selalu menolong orang miskin.
           
             

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hallo...

Enaknya jawaban