St. ALoysius Gonzaga

PELAYANAN HINGGA AKHIR
“Sebuah Keteladanan dalam Memberikan Pelayanan Secara Total”

Aloysius Gonzaga seorang santo muda yang lahir pada 9 Maret 1568 adalah seorang anak bangsawan dari Castiglione yang pada masa mudanya sangat mengenal apa itu militer. Usia 7 tahun, ia terjangkit malaria yang memberikan pencerahan baru kepada dirinya yaitu hidup secara batiniah sehingga pada usia 8 tahun sikapnya sudah bagaikan seorang yang sudah dewasa sehingga ayahnya kagum dan menganggap bahwa ia yang pantas sebagai ahli waris keluarga Castiglione.
Suasana yang penuh dengan dosa yang terjadi pada kaum bangsawan membuat Aloysius menarik dirinya dan memilih untuk mundur dengan segera, dan ia berjanji kepada Tuhan bahwa ia tidak akan menyakiti Tuhan dengan berdosa. Ia adalah seorang yang hebat meskipun masih berusia 12 tahun ia dapat mengerti pembicaraan-pembicaraan dengan Kardinal yang suci tersebut sehingga Kardinal Carolus Borromeus memberikan komuni pertamanya kepada Aloysius yang masih muda tersebut.
Keinginan Aloysius untuk menjadi seorang pelayan Tuhan dan meninggalkan warisannya muncul ketika ia merasa yakin bahwa menjadi seorang bangsawan bukan jalannya. Meskipun terjadi ketegangan yang terjadi dengan keluarganya karena pilihannya untuk menjadi seorang imam ia tetap teguh dengan pendiriannya karena ia menganggap jalan imamat adalah panggilan dari Tuhan sehingga ia harus meninggalkan keluarganya. Karena kehendaknya yang kuat ia diijinkan untuk menjadi seorang imam.
Dalam karya pelayanannya ia dikirim di Roma karena adanya wabah dan kelaparan di Italia. Dalam pelayanannya ini banyak rekan-rekannya yang meninggal karena terkena wabah yang sangat menular yaitu wabah pes yang dapat membawa seseorang pada kematian.
3 Maret 1591, Aloysius yang masih muda menderita penyakit pes yang membuatnya harus berbaring. Penyakit yang diderita luar biasa sakitnya sehingga ia tidak bisa bangun dengan sendirinya sehingga harus diberi Sakramen Bekal Suci pada 21 Juni 1591, dan pada pukul 10 malam ia tidak bisa menahan lukanya dan wafat dengan menyebut nama Yesus sebagai Tuhan yang telah memanggilnya.
Dalam usianya yang ke-23 ia dimakamkan di Gereja Anunciata, kemudian dipindahkan ke Gereja St. Aloysius. Devosi-devosinya dan tulisan-tulisan utamanya yang berbicara mengenai malaikat penjada dan sembilan malaikat surga bernyanyi memuji Tuhan Sang Raja Abadi. Melihat keteladanan dari St. Aloysius mengenai hidup doa, karya dan semua keutamaan yang dimilikinya, Aloysius menjalani hidupnya dalam kesucian. Oleh karena itu ia diberi gelar Beato oleh Paulus V dan santo Oleh Benediktus XIII pada tanggal 31 Desember 1726






Tengah Kaunantikan (S. Aloysius)

Tengah kau nantikan imamat pilihan, o Aloysius
Jiwamu dipetik bunga taman khalik, o Aloysius

Luruslah matamu, sucilah jalanmu, o Aloysius
Saleh dengan benar hati tak bercemar, o Aloysius

Pemuda kawanmu digoda seteru, o Aloysius
Jiwanya lindungkan dalam kesucian, o Aloysius

Penganjur, jauhkanlah penggoda bernoda, o Aloysius
Kusuka berteguh mengikut langkahmu, o Aloysius

-Kidung Syukur; Keuslupan Agung Jakarta-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hallo...

Enaknya jawaban