Stress

SEGALA SESUATU DIBERIKAN DENGAN CUMA-CUMA. SEGALANYA ADALAH KARUNIA. SEJAUH MANA KITA MENYADARI KEBENARAN INI, ADALAH TOLOK UKUR RASA SYUKUR KITA, DAN RASA SYUKUR MERUPAKAN TOLOK UKUR BAGI HIDUP KITA.
David Steindl-Rast

Dalam perjalanan hidup di Seminari Garum, setiap seminaris pasti pernah mengalami suatu peristiwa yang berat untuk diterima dan disyukuri. Peristiwa yang membuat seminaris tidak bisa berpikir jernih dan merasa terbebani sehingga menjadikannya stres. Sudah menjadi pandagan umum para seminaris bahwa keadaan stres biasanya muncul ketika banyak tugas-tugas baik dari sekolah maupun asrama yang harus segera diselesaikan ditambah lagi kondisis komunitas yang kadang kala tidak sesuai dengan yang diharapkan sehingga mereka menjadi terbebani. Lalu, ketika mereka berada dalam kondisi stres mereka cenderung membiarkannya hingga berlarut-larut karena mereka menganggapnya sebagai suatu hal yang biasa dan wajar. Akan tetapi, anggapan seperti itu sebenarnya keliru. Karena, stres yang tetap dibiarkan berlarut-larut bisa berdampak buruk bagi keseimbangan diri yang akhirnya dapat mempengaruhi kesehatan tubuh.
Mengapa ? Menurut Anne Bryan Smollin seorang terapis di Albany, New York dalam buku God Knows You're Stressed menerangkan bahwa stres yang tidak diperhatiakn merupakan faktor resiko yang lebih tinggi bagi timbulnya berbagai penyakit seperti pencernaa, diare, radang usus, menurunnya nafsu makan, sering flu, gemetaran, jantung, dan tekanan darah tinggi. Meskipun stres memang tidak selalu menyebabkan penyakit secara langsung, tetapi stres terbukti merupakan faktor yang ikut menjadikan orang sakit. Oleh karena itu, jelas bahwa stres yang selama ini dianggap sebagai suatu hal yang wajar adalah sikap yang keliru. Dan membiarkan stres tetap nyaman tinggal di dalam tubuh kita berarti sama dengan membiarkan stres menguasai diri kita.
Selanjutnya, sikap menganggap stres sebagai suatu hal yang wajar juga menunjukan bahwa kurangnya sikap kepedulian terhadap diri sendiri. Padahal ketika kita mau merawat dan peduli terhadap diri sendiri secara disadari atau tidak maka akan timbul hubungan timbal balik yang harmonis yaitu diri kita akan ganti merawat tubuh kita. Akhirnya mendefinisikan stres adalah ketidakmampuan mengatasi ancaman yang nyata ataupun yang hanya dibayangkan terhadap kesejahteraan kita, yang kemudian menghasilkan serangkaian tanggapan dan penyesuaian oleh tubuh kita.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hallo...

Enaknya jawaban