The Nobble things

“Live in with work”
PREFACE
Selasa 4 Oktober, pagi hari setelah perayaan ekaristi, saya bersama dengan 21 teman dari kelas IV berangkat untuk memulai langkah baru menempuh panggilan ini. Tempat pembibitan ayam menjadi tempat saya untuk tinggal kali ini. Entah mengapa dari dulu saya memang tidak jauh dari ayam. Sejak kecil saya mempunyai ayam, di seminari dan stasi saya juga selalu menemui dan berurusan dengan ayam.
Hari pertama sebelum sampai di tempat kerja masing-masing, kami yang menuju arah Blitar berkumpul di halaman paroki St. Yusuf Blitar, untuk melakukan briefing sejenak. Seusai briefing, saya bersama dengan Erik dan Setyo berangkat ke rumahnya Bu Elisabet yang berada di Blitar dengan usaha percetakan dan modes batiknya. Di sana kami diarahkan oleh salah seorang karyawan yang dititipi pesan oleh Bu Eli. Namun, kali ini ada perbedaan tempat tugas kami untuk live in, yang tadinya berurusan dengan ayam, kali ini harus menuju pada proses batik-membatik yang tentunya dulu pernah diajarkan oleh mantan guru seni seminari, Pak Andik.
Hal yang pertama saya rasakan adala bingung, perasaan aneh muncul dari hati saya, namun demi suksesnya live in ini saya harus mau untuk menjawab “ya” dan melakukan segala hal yang akan menjadi tugas saya nantinya.
ENTER TO FACING
Percetakan? Batik? Ya, semua jadi satu ruangan yang tidak teramat luas, bahkan kelas IV lebih luas daripada tempat kerja untuk batik dan percetakan. Sebenarnya bukan masalah ruangan, akan tetapi mengenai bagaimana mereka bekerja dengan hal yang mereka miliki sekarang ini untuk tetap mempertahankan usaha ini untuk menjadi lebih baik. Semua ingin mejadi yang lebih baik, maka semuanya harus tetap berusaha.
Kesetiaan untuk berjuang, hal ini tidak dimiliki oleh seitap orang yang bekerja di tempat ini. Ada yang hanya melakukan hanay sebagai rutinitas, namun ada yang melakukan dengan segenap hati dan penuh semangat. Yang terpikir ketika melakukan rutinitas ini adalah apakah mereka tidak merasakan kebosanan, mulai pukul 08.00 hingga 16.30 dengan waktu istirahat pukul 12.30 hingga13.30 berkerja terus menerus dengan alat yang sama dan bidang yang selalu sama. Hal ini juga pernah saya alami ketika acara aksi panggilan atau sharing bersama dengan teman-teman lama saya, mereka menanyakan hal itu kepada saya, mengenai kebosanan. Memang setiap orang punya alasan yang berbeda untuk tetap bertahan pada hal yang mereka jalani. Saya pun juga punya alasan untuk tetap setia dan bertahan di seminari ini. Saya masih ingin menjalani panggilan saya ini untuk menjadi seorang imam misionaris. Jawaban “ya” dan kesetiaan pada Tuhan yang mengutus saya menjadi bagian penting dalam hidup saya sebagai gembala-Nya.
Di sana juga ada beberapa orang yang usianya hampir sama dengan saya, beberapa diantaranya lebih muda dari saya. Hal yang membuat saya heran adalah mereka hanya lulusan SMP dan tidak ingin melanjutkan pendidikan di jenjang yang lebih tinggi. Mereka menganggap bahwa berada di luar dengan pekerjaan jauh lebih tinggi pengalamannya dibandingkan dengan sekolah. Tapi, dibalik semua itu ada motivasi yang baik dari mereka. Mereka ingin hidup dengan mandiri, tidak ingin menyusahkan orang tua, bahkan mereka ingin membiayai orang tua mereka yang kurang mampu.
Motivasi positif dengan misi yang mereka punyai tentunya tidak lepas dari visi hidup yang dimiliki. Meskipun sederhana mereka tetap ingin “menjadi yang lebih baik”. Butuh perjuangan untuk menjadi yang lebih baik, mereka mengingatkan saya sebagai seorang muda untuk tetap setia dan belajar dengan sungguh-sungguh dalam menjalani panggilan hidup yang saya pilih ini. Mereka memilih untuk bekerja dalam mencapai hidup mereka yang lebih baik. Mungkin, jika saya katakan bahwa saya masuk seminari, hidup di asrama, menjadi imam masa depan dan tidak menikah, mungkin saya dikatakan sebagai seorang yang agak aneh. Namun, ini pilihan hidup saya, menjadi seorang imam misionaris.
Ikat kain itu dengan kuat dan keras sehingga ketika batik itu diberi warna, kain yang terkena ikatan tidak bocor atau tembus pewarna sehingga hasilnya baik.
Dalam proses membuat batik ini saya merasakan bahwa dalam batik ini juga terarah pada hidup saya. Saya bagaikan kain yang diikat tersebut. Ikatan yang pada batik adalah kualitas dan hal yang saya miliki yang telah diajarkan dan diberikan oleh orang lain kepada saya. Dan warna itu adalah pengaruh yang datang dari luar. Jika ikatan yang diberi pada saya bagus, keras dan kuat maka warna itu tidak akan masuk ke dalam lingkaran pengaruh diri saya yang harus saya jaga. Semakin baik ikatan, semakin baik pula hasilnya. Naum, hal ini akan berbeda jika ikatan tersebut kurang baik, maka hasil yang diperoleh juga tidak akan baik bahkan gagal. Panggilan yang saya alami akan menjadi seperti itu juga. Jika kualitas dalam diri saya baik, maka kelak saya juga akan menjadi seorang imam yang baik, dan jika kualitas yang saya miliki rendah maka panggilan yang saya alami ini akan menjadi sebuah kegagalan yang hanya akan menyisakan kekecewaan.
Semua yang saya alami, semua yang saya miliki sekarang ini tentunya masih jauh dari cukup. Banyak hal yang masih harus saya peroleh untuk menjadi seorang pelayan Tuhan yang berkualitas. Ad pacem per bellum.
Mencapai semua itu tidak lepas dari tujuan hidup yang saya pegang. Visi hidup yang saya pegang untuk menjadi imam dengan menghidupi nilai dasar seminari ini -3S+societas- harus saya ikat dengan keras dan kuat. Begitu pula dengan panggilan yang saya jalani. Memang banyak sekali godaan dan rintangan yang setiap kali melemahkan panggilan saya. Saya juga tersadarkan dengan keras ketika Bapak Yulius mensharingkan pengalaman hidupnya bahwa hidup di dunia ini hanya meminjam dari Tuhan. Hidup ini saya meminjam dan meminjam perlu mengembalikan. Oleh sebab itu, saya ingin sekali mengembalikan segala hal yang telah saya pinjam dari Tuhan ini untuk menjadi seorang gembala-Nya yang setia sebagai seorang imama di masa depan.
Mengikat panggilan yang saya alami dengan keras dan kuat menjadi tugas saya dalam mempertahankan panggilan ini. Sungguh saya merasakan panggilan yang masih sangat kuat, meskipun kerap kali saya tergoda untuk berhenti menjalani panggilan ini, tapi saya tetap masih percaya bahwa jalan saya ada di sini, menjadi imam.
I HOPE FOR …
Rutinitas yang sederhana, terdiri dari dua sesi yang sangat membutuhkan disiplin, tindakan nyata dan kesetiaan-daya tahan. Jika hal-hal ini tidak dimiliki sekaligus, maka banyak hal yang akan terbengkalai. Di sini, tempat saya dan Setio bekerja masih banyak kekurangan yang dimiliki, selain skill para pegawai yang kurang dan pengalaman yang masih sedikit, sangat perlu kerja keras dan tolong menolong satu sama lain, perlu kerja tim dan tindakan saling melengkapi agar semua hal yang ditargetkan ini dapat terwujud dengan baik.
Saya membayangkan ketika menjadi imam nanti, tentunya hal ini juga akan terjadi. Ketika ada beberapa umat yang berkompentensi dan ada beberapa umat yang kurang ini akan menjadi tanggung jawab saya untuk menggembalakan mereka untuk saling melengkapi, bukan saling menjatuhkan atau membodohi yang lainnya.
Menjadi seorang imam yang sederhana saja mungkin susah. Banyak sekali hal-hal yang menggoda di jaman ini. Wanita, harta, hiburan dan kepuasan pribadi yang mendunia menjadi sebuah tantangan. Apalagi sekulerisme dan hedonisme dapat dengan mudahnya memasuki panggilan dan mempengaruhi proses ini. Di sini, di seminari Garum, saya bangga di seminari ini, tidak hanya seminari saja, melinkan para formator, bapak-ibu guru, karyawan-karyawati dan juga teman-teman semuanya yang selama ini selalu mendukung saya di jalan ini. Kerap kali, dalam diri saya protes mengenai kebijakan yang diberikan oleh para formator, yang membatasi akses yang sebelumnya dapat digunakan dengan mudah. Tapi saya sadar bahwa di sini sebagai formandi, yang dibimbing itu semua demi kebaikan yang akan kami peroleh. Memang ini kurang memuaskan, tapi ini sangat melatih saya untuk menjadi seorang yang lebih dewasa dengan menerima panggilan Tuhan dan menjauhi godaan dunia yang sudah menggerogoti setiap insan di dunia ini dengan mudahnya.
Jalan Tuhan yang saya lihat di sini, melalui pembinaan di seminari ini sangat kuat saya rasakan manfaatnya, terlebih melalui live ini. Saya sadar betapa rendahnya saya ketika saya melanggar berbagai aturan yang sudah ada, dan ketika saya kurang menghormati pembina dan semua yang mendukung saya. Padahal mereka mengharapkan saya untuk menjadi seorang imam yang berkualitas, namun kerap kali tanggapan yang saya beri kurang memberikan kesan pro aktif. Sehingga banyak hal yang seharusnya sudah saya peroleh dan saya amalkan dengan baik hanya menjadi angin lalu saja.
Saya sangat ingin sekali menjadi seorang room yang semangatnya seperti Romo Mangun, SJ dan solidaritasnya seperti Romo Frans Magni, SJ. Mereka memang terkenal dan saya terkesan dengan kisah mereka. Romo Mangun yang mengembangkan wilayahnya menjadi rumah sehat bagi siapapun, selain itu ia juga memperjuangkan hak-hak kaum pinggiran yang terlantar. Ia adalah romo yang hebat. Romo Magnis, yang selalu berdialog dan menjalin relasi dengan semua orang yang sama maupun berbeda keyakinan ia tetap memperteguh rasa persatuan dan kesatuan yang dimiliki untuk negara ini.
Jika kelak saya menjadi romo, saya ingin menjadi seorang romo yang selalu militan membela dan mengumandangkan nama Tuhan dimanapun saya ditugaskan. Hal yang ingin saya lakukan juga untuk semua itu adalah mengumandangkan dan mengamalkan kepada sesame mengenai hukum Tuhan yang utama, “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, dan dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap akal budimu, dan dengan segenap kekuatanmu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Kasih adalah hokum Tuhan yang paling utama. Menjadi seorang imam yang menghadirkan Kerajaan Surga kepada semua orang dengan kasih Allah di dunia ini adalah cita-cita saya.

AMIN
AD MAIOREM DEI GLORIAM
Dengan penuh kasih

Ignasius Gregorius Purba Nagara

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hallo...

Enaknya jawaban