Gaudete

HARI MINGGU ADVEN III
Oleh Gregorius Purba Nagara

Bacaan : I = Yesaya 61:1-2a.12-11 Mzm. Luk 1:46-54; Ul lh. Yes 61:10b
              II = 1 Tesalonika 5:16-24
             Injil = Yohanes 1:6-8.19-28
Tema : Sukacita

Pesan : Hendaklah kita bersukacita dalam menyambut Kedatangan Tuhan yang telah dijanjikan kepada kita    sebagai penyelamat.
Tujuan : Mengajak umat agar menjadi bersukacita dalam persiapan kedatangan Tuhan ini.

Rencana Khotbah
1. Yohanes pembabtis datang kepada semua orang untuk menyerukan kedatangan Mesias.
2. Yohanes pembabtis memperingatkan kepada kita agar memepersiapkan diri dalam menyambut kedatangan Mesias, Sang Terang dengan sukacita.

Isi Khotbah:

Berkah Dalem, Selamat Sore bapak-bapak, ibu-ibu serta saudara-saudaraku yang dikasihi dalam Kristus. Bagaimana kabarnya? Sebelum datang ke Gereja hari ini, apakah bapak atau ibu masih merasakan, menyisakan suatu peristiwa yang sulit ditinggalkan, entah itu harus mengurusi orang yang sakit, atau akan ada tamu yang datang, atau yang lain sebagainya?
Baik tidak apa-apa sekarang kita bawa seluruh pengalaman itu, kita titipkan pada Tuhan sejenak ya dan jangan diurusi untuk sejenak sebab kita sudah serahkan pada Tuhan, jangan khawatir Tuhan akan menjaganya dengan baik. Dan sekarang marilah kita siapkan hati untuk menanggapi Injil Tuhan yang telah dibacakan ini.
Suatu ketika, ketika saya berkumpul dengan bapak-bapak di kampung bude saya, di Magelang waktu itu saya kelas 2 SMP, mereka bercerita mengenai masa Presiden Soeharto dulu. Pada saat itu bapak presiden ingin datang ke Magelang, nah yang paling menghebohkan yaitu bapak presiden ingin datang ke tempat kami berada, kecamatan Wates. Karena ini yang datang adalah seorang presiden, maka jalan-jalan yang rusak diaspal lagi, pinggiran jalan dikasih trotoar, pohon-pohon dipangkas supaya rapi, tanah yang gersang ditanami, bahkan ada banyak spanduk-spanduk yang bertuliskan “Selamat Datang Bapak Presiden Soeharto”, itu tidak hanya satu melainkan puluhan. Coba kota bayangkan berapa juta yang dikeluarkan pada saat itu? Kalau dulu masih juta, mungkin jika dibandingkan sekarang berjuta-juta.
Setelah semua itu dilakukan, dikoreksi, dilihat baik-baik, dicari-cari apa yang kurang, ternyata masih ada saja, bagian yang masih sepi diberi baliho, gambar Soeharto yang besar-besar, kemudian warga yang disekitar wilayah tersebut semuanya diberi kaos yang bergambarkan wajah Bapak Soeharto. Menurut cerita bapak-bapak itu, Pak Harto masih sebagai orang yang hebat, terkenal sehingga jika ia datang semuanya harus dipersiapkan dengan baik. Semua orang harus riang-gembira, lha presiden mau datang masak kita mrengut? Tapi dulu gak ada orang yang mrengut karena dengan melihat wajahnya, atau punggungnya saja para warga pada saat itu saja sudah senangnya minta ampun. Apalagi yang disalami, yah… bagaikan terbang ke surga, beh gek mareme gak umum.
Presiden Soeharto saja yang manusia saja disambut begitu meriah, apalagi Yesus. Njajal sekarang bagaimana? Bahagia atau tidak? Ada sukacita di dalam hati bapak-ibu, atau mas-mas adek-adek? Heh… dulu saja Mesias, Sang Penyelamat itu dinanti-nantikan. Masak sekarang kedatangan Yesus, apalagi Kristus, hmmm sama ya… masak kita nggak bahagia, bersukacita?
Yah… sekarang kita lihat lagi apa yang dikatakan Nabi Yesaya merupakan berita mengenai kedatangan hari rahmat Tuhan.”Aku bersukaria dalam Tuhan, jiwaku bersorak-sorai di dalam Allahku. Sebab Ia mengenakan pakaian keselamatan kepadaku dan menyelubungi aku dengan jubah kebenaran, seperti pengantin pria mengenakan hiasan kepada, dan seperti pengantin wanita memakai perhiasannya.” Nabi Yesaya mengajak kita untuk bersukaria di dalamNya yang telah membawa kebebasan dari dosa-dosa yang selama ini kita lakukan.
Yohanes yang pada saat itu terkenal saja tidak lupa akan tujuannya, ia bahkan menjadi seorang yang rendah hati. Ia bahkan merasa membuka tali kasutNya saja tidak layak. Ia hanya sebagai jalan Tuhan, ia mempersiapkan kita agar kita siap untuk menyambut Tuhan dengan sukacita. Sukacita dengan rahmat pembabtisan yang terbarukan, sukacita yang membawa pertobatan, sukacita yang membawa kita pada hidup abadi.
Semua hal yang tertulis dalam Injil telah digenapi Yesus dalam segenap karyaNya, tidak hanya terjadi pada zamanNya, melainkan pada sekarang ini rahmat Tuhan jauh lebih besar tercurah kepada kita, terlimpah pada kita, seperti ketika kita membawa ember penuh dengan air dan kita siramkan ke tanaman dengan pot ukuran lingkaran lengan kita, tentunya air itu berlimpah, sama dengan rahmat Tuhan yang Ia berikan kepada kita, sungguh berlimpah dan tidak ada duanya di dunia ini.
Sebenarnya jika kita melihat kedalam diri kita masing-masing, ketika kita menghadap Tuhan Yesus, ketika kita berangkat ke Gereja kita sering merasakan eman wektune yang sawah, nyang pasar, pekerjaan masih banyak di rumah, di ladang dan sebagainya. Mengapa kita masih merasakan hal ini? Sebenarnya ada satu hal, yaitu sukacita seperti yang disampaikan Yohanes pembabtis. Jika seseorang merasakan sukacita yang sangat besar dari Allah, tidak mungkin kita akan eman terhadap segala hal yang kita miliki, sebab jika kita sudah dipanggil masak semua itu masih di bawa, ya kalau ringan, kalau berat seperti mau membawa truk, bias? Bisanya hanya mengendarai, kalau nggak bias ya nunut?
Sukacita dalam Allah itu sendiri akan terasa jika kita sudah punya perasaan pasrah total kepada Allah, jika kita benar-benar merasakan dengan sangat dalam, segala hal yang ada di dunia ini hanya sementara saja, kita meminjam dari Allah, meskipun kita membelinya, kita kerja keras, mandi keringat dan sebagainya. Ingat! Semua itu berasal dari Allah, Alllah menginginkan kita untuk menggunakannya sebagai sarana kita untuk melayani, berbagi dengan sesame kita. Segala hal yang di dunia ini sifatnya sementara saja, seperti dalam lagu “Urip Mampir Ngomber” di mana dalam syair-syairnya kita di dunia ini hanya hidup sementara saja, jika kita berbuat baik maka kita akan mendapat yang baik, sebuah keselamatan kekal dari Allah dan jika kita berbuat jahat maka kita dapat yang jahat, yang dicampakkan, dibuang begitu saja.
Maka dari tiu, bapak-bapak ibu-ibu serta saudara-saudari, dalam minggu Adven ketiga, yang dikenal dalam Gereja sebagai minggu bahagia, kalau bahasa latinnya Gaudete, sukacita mari kita siapkan hati, perasaan, tindakan kita agar kita pantas menyambut kedatangan Tuhan dengan penuh sukacita akan keselamatan seperti yang Ia janjikan kepada kita, yaitu sukacita keselamatan tinggal bersama dengan Bapa. Tapi lebih dari itu jika pada saat masa masa-masa Natal kita menjadi baik, terus kalau setelah Natal kembali kepada yang kurang baik, ya percuma saja, karena kita itu tidak tahu sebenarnya kedatangan Tuhan, sebab kedatanganNya seperti pencuri, kan kita tidak tahu. Yah, sebagai penggembala yang diutus ke sini, saya mengingatkan kepada anda semua, seperti Yohanes Pembabtis, kita siapkan jalan bagi Tuhan dengan penuh sukacita dan mari bersama-sama terus bersukacita bersama dengan Tuhan hingga akhir hidup kita, dengan berbuat baik kepada sesama, mewartakan cinta kasih Tuhan kepada sesama, itulah hal penting yang harus kita lakukan dengan sukacita. Damai Tuhan besertaMu.
Kemuliaan …

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hallo...

Enaknya jawaban